Manusia Keseringan Sakit Betulan atau Kesengajaan – Manusia Anjing?

KeseringanSetiap orang sesekali membutuhkan hari tidak terjadwal untuk berlibur atau beristirahat. Sayangnya, tempat kerja Anda mungkin tidak menghargai spontanitas Anda, dan dengan alasan yang baik. Untungnya, ada yang bisa Anda lakukan di situasi seperti ini: mengaku sakit. Jelas ini bukanlah sebuah teknik yang Anda dapat gunakan terlalu sering, tapi ini bisa memberikan Anda istirahat baik yang Anda butuhkan. Untuk mengaku sakit, Anda harus meyakinkan rekan kerja Anda jika Anda benar-benar merasa sakit di hari sebelumnya dan membuat telepon ke bos Anda bahwa Anda sangat sedih harus berdiam di rumah karena penyakit Anda tanpa melakukannya terlalu berlebihan.

Walaupun bos Anda tidak akan terlalu banyak bertanya, itu penting untuk mengetahui sakit Anda sebelum menelpon. Daripada hanya mengatakan Anda tidak enak badan, katakan Anda sedang migraine, sakit perut, atau flu bisa membantu argumen Anda lebih meyakinkan. Anda harus menyiapkan jawaban untuk pertanyaan bos Anda, seperti kapan Anda mulai berasa sakit, kapan Anda akan kembali, dan apakah Anda akan ke dokter. Anda tidak mau terdengar ragu, atau bos Anda akan curiga Anda memalsukan itu.

  • Jika Anda mau mengambil izin beberapa hari, pilih sakit yang baik. Migraine atau maag yang parah memberikan Anda izin selama dua hari atau lebih, karena penyakit ini bisa terjadi kapan saja dan pada waktu yang lama. Mata merah atau radang tenggorokan bisa lebih lama. Apapun pilihan Anda, Anda harus melakukan research supaya Anda bisa mendiskusikan gejala gejalanya dengan jelas.
  • Anda bahkan bisa berlatih percakapan ini dengan teman dekat Anda untuk lebih memastikan. Kemungkinan bos Anda tidak akan menanyakan penyakit Anda secara detail tetapi akan lebih baik untuk menyiapkan diri Anda.

Banyaknya beragam manusia yang hidup tidak sehat dan maka dari dampak hidup tidak sehat berbagai cara apapun dijadikan tidak sehat sehingga dampak merugikan para kerabat-kerabat kerja, sehingga menimbul etos kerja yang tidak bagus di dalam suatu lingkup lerja. Sakit itu bukan suatu pilihan , namun terkadang penyakit itu di buat buat seolah-olah sakit betulan .  orang yang sakitnya berpura-puraan dampaknya meninggalpun tidak di terima di sisinya melainkan diterima di neraka jahanam

keseringanPura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Saat Anda masih kecil, mungkin Anda pernah berbohong pada orangtua dengan berpura-pura sakit. Biasanya hal ini dilakukan supaya bisa menghindari tanggung jawab seperti pergi ke sekolah atau ketika diminta bantuan oleh orangtua. Bagi beberapa orang, kebiasaan ini masih dilanjutkan hingga menginjak usia dewasa. Namun, Anda perlu waspada jika hal ini Anda lakukan demi mencari perhatian atau rasa kasihan dari orang lain, dan bukan semata-mata untuk menghindari sebuah tanggung jawab saja. Jangan-jangan, Anda mengidap sindrom pura-pura sakit yang juga dikenal dengan istilah sindrom Munchausen.

Apa itu sindrom Munchausen?

Sindrom Munchausen atau sindrom pura-pura sakit adalah salah satu jenis gangguan jiwa. Penderitanya akan memalsukan berbagai gejala dan keluhan penyakit, baik fisik maupun psikis. Namun, kebanyakan penderita sindrom ini akan berpura-pura memiliki penyakit fisik tertentu. Mereka tak akan ragu untuk mengakses fasilitas kesehatan misalnya dengan pergi ke rumah sakit, periksa ke dokter, mencari obat di apotek, hingga menjalani berbagai tes untuk mengobati penyakit fiktif (palsu) yang diidap ini.

Gejala penyakit yang dikeluhkan biasanya berupa nyeri di dada, sakit kepala, sakit perut, demam, dan gatal atau ruam pada kulit. Akan tetapi, pada kasus-kasus ekstrem penderita sindrom pura-pura sakit akan sengaja menyakiti diri sendiri untuk memicu gejala penyakit. Hal tersebut dilakukan entah dengan cara mogok makan, menjatuhkan diri supaya ada tulang yang retak, overdosis obat, atau melukai bagian tubuh tertentu.

Mengapa orang berpura-pura sakit?

Tujuan utama penderita sindrom Munchausen berpura-pura sakit adalah untuk mendapatkan perhatian, simpati, rasa iba, dan perlakuan baik entah dari keluarga, kerabat, atau tenaga kesehatan. Mereka percaya bahwa berpura-pura sakit adalah satu-satunya cara supaya mereka bisa menerima kasih sayang dan kebaikan sebagaimana orang yang benar-benar sakit akan diperlakukan.

Berbeda dengan penderita hipokondria yang tidak menyadari bahwa gejala penyakit yang diderita sebenarnya bersifat fiktif, orang yang mengidap sindrom Munchausen tahu dan sadar sepenuhnya bahwa dirinya tak mengidap penyakit apa pun. Mereka akan dengan penuh pertimbangan menciptakan sendiri kondisi klinis tertentu guna menarik perhatian dari orang-orang di sekitarnya.

Sejauh ini belum ditemukan penyebab sindrom Munchausen, tapi para ahli sepakat bahwa mereka yang mengidap penyakit mental ini juga memiliki gangguan kepribadian yang ditunjukkan dengan kecenderungan menyakiti diri sendiri, kesulitan mengendalikan impuls, dan suka mencari perhatian (histrionik). Selain itu, berbagai penelitian menghubungkan sindrom pura-pura sakit dengan adanya riwayat trauma masa kecil karena kekerasan atau penelantaran dari orang tua.