Tradisi Makan Pakkat yang masih bisa ditemukan di Tapanuli

Menjadi sebuah kebiasaan bagi penduduk tapanuli melakukan Tradisi Makan Pakkat atau yang kita kenal dengan batang rotan untuk furnitur

Makan Pakkat

Alam memang sangat memanjakan manusia semua hal diberikan untuk kehidupan manusia. Banyak dari hasil alam yang telah berhasil dimanfaatkan oleh manusia sampai akhirnya merusak alam tersebut.

Kerusakan alam ini tentu saja akan berpengaruh terhadap satwa asli yang akan cepat punah. Tidak mudah untuk bisa menanam kembali habitat dari alam yang sudah di esploitasi belum lagi dibuat menjadi rumah penduduk.

Hewan yang telah kehilangan tempat tinggal pada akhirnya masuk kepemukiman warga. Tidak segan hewan tersebut langsung dibunuh dan diarak tentu saja semakin berkurang hewan asli dari hutan indonesia.

Didalam hutan memang sangat banyak sekali tanaman dan pohon yang menjulang dengan tinggi. Ada satu tanaman yang sangat sering digunakan untuk bahan pembuatan mebel atau furnitur seperti meja dan juga kursi.

Dibuat dari beberapa batang yang lentur dan mudah dibentuk sehingga bisa sesuai keinginan. Tanaman ini dikenal dengan sebutan Pakkat atau Rotan yang justru dimakan dan menjadi makanan keharian daerah.

Rotan yang dikonsumsi tentu saja bukan yang sudah tua karena keras dan tidak bisa dimakan. Yang dikonsumsi adalah jenis rotan muda dan dikonsumsi sebagai lalapan bahkan dimakan bersamaan dengan nasi.

Tepatnya di Tapanuli Selatan Tradisi ini masih tetap dilakukan walaupun tidak sering. Kegiatan makan rotan muda ini dilakukan setiap mendekati bulan ramadan, berbuka puasa, dan kegiatan upacara adat setempat.

Tradisi Makan Pakkat

Tradisi Makan Pakkat yang Nikmat Dengan Bumbu Khas Tapanuli

Untuk bisa menikmati rotan muda ini cukup muda hanya perlu dibakar selama 15 menit saja. Setelah dibakar lalu dikupas kulit yang gosong karena yang dimakan inti dari rotan yang berwarna putih bersih.

Rasanya memang sedikit pahit namun sangat bisa untuk dinikmati dengan bumbu sambal khas. Dari campuran bawang putih, merah, cabai, dan jeruk nipis tentu saja membuat rotan ini habis dalam waktu seketika disantap.

Memang sengaja tidak dikonsumsi setiap hari karena menjaga kelestarian rotan agar tumbuh dewasa. Rotan yang sudah tua tidak bisa lagi dimakan karena keras dan berserat jika dibakar akan terbakar semua jadi arang.